Tuesday, August 9, 2011

Ternyata Islam Sudah Ada di Amerika Jauh Sebelum Kedatangan Colombus


































    السلام عليكم . بِسْــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
    الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

    Jika
    Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres
    (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah
    Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun
    1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu,
    bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

    Isi perjanjian itu
    antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya
    dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee
    yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan
    kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum
    laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.







    Cara
    berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee
    yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee
    sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang
    Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.







    Berbicara
    tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang
    asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary
    suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita
    sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara
    sendiri.







    Yang
    membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh
    Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan
    masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di
    Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.



















    Nama-nama
    suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak
    hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi,
    Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi,
    Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni. Bahkan, beberapa kepala suku
    Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah
    Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox,
    Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan
    pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.







    Secara
    umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang
    menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka
    juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk
    memuja dan menyembah-Nya. Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa :
    ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of
    prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah
    Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin
    semata-mata untuk beribadah pada Allah (*)







    Subhanallah….

    Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

    Sejarahnya panjang,

    Semangat
    orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet
    (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain
    untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu
    saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara
    mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta
    mereka saat itu.

    Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat
    ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho
    dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan
    hanya tercatat pada buku-buku akademis.







    Para
    ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat
    perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al
    Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab
    Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta
    (meninggal tahun 1369).

    Menurut catatan ahli sejarah dan ahli
    geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad
    seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke
    benua Amerika pada tahun 889 Masehi. Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa
    Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al
    Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah
    Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari
    Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga
    mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan
    kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

    Sesudah
    itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang
    Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis
    buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan
    para pedagang ke Afrika dan Asia.







    Dr.
    Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul
    Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya
    orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba
    (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan
    berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa
    barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

    Beliau
    juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar
    Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II
    (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat
    meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi
    Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

    Ibn
    Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke
    barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana.
    Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.







    Perlayaran
    melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut
    Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari
    Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 –
    1307) raja keenam dalam dinasti Marinid. Kapalnya mendarat di pulau
    Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan
    perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

    Sultan-sultan
    dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu,
    ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika.
    Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384)
    memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama. Timbuktu yang kini
    dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan
    keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak
    dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

    Sultan
    yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah
    Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa
    (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan
    Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

    Sultan
    Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan
    menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini
    berbahasa Arab. Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan
    dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan
    dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini
    menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua
    Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.







    Sequoyah,
    also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri
    mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi
    Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana
    terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika. Mereka mendiami Karibia,
    Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin
    menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk
    berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

    Lebih
    lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara
    Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit
    dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa
    reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

    Dan
    tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten
    kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara
    Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari
    Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD:
    Christopher Columbus, New York 1950]

    Dan mengapa hanya Columbus
    saja yang sampai saat ini dikenal sebagai penemu benua amerika? Karena
    saat terjadi pengusiran kaum yahudi dari spanyol sebanyak 300.000 orang
    yahudi oleh raja Ferdinand yang Kristen, kemudian orang-orang yahudi
    menggalang dana untuk pelayaran Columbus dan berita ‘penemuan benua
    Amerika’ dikirim pertama kali oleh Christopher Columbus kepada
    kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol.

    Pelayaran Columbus ini
    nampaknya haus publikasi dan diperlukan untuk menciptakan legenda sesuai
    dengan ‘pesan sponsor’ Yahudi sang penyandang dana. Kisah selanjutnya
    kita tahu bahwa media massa dan publikasi dikuasai oleh orang-orang
    Yahudi yang bahkan dibenci oleh orang-orang seperti Henry Ford si raja
    mobil Amerika itu.







    Maka
    tampak ada ketidak-jujuran dalam menuliskan fakta sejarah tentang
    penemuan benua Amerika. Penyelewengan sejarah oleh orang-orang Yahudi
    yang terjadi sejak pertama kali mereka bersama-sama orang Eropa
    menjejakkan kaki ke benua Amerika.

    Dan tahukah anda? sebenarnya
    laksam ana Zheng He atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama
    laksamana Cheng Ho adalah penemu benua amerika pertama, sekitar 70 tahun
    sebelum Columbus.

    Sekitar 70 tahun sebelum Columbus menancapkan
    benderanya di daratan Amerika, Laksamana Zheng He sudah lebih dulu
    datang ke sana. Para peserta seminar yang diselenggarakan oleh Royal
    Geographical Society di London beberapa waktu lalu dibuat terperangah.
    Adalah seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies
    dengan paparannya dan lantas mendapat perhatian besar.

    Tampil
    penuh percaya diri, Menzies menjelaskan teorinya tentang pelayaran
    terkenal dari pelaut mahsyur asal Cina, Laksamana Zheng He (kita
    mengenalnya dengan Ceng Ho-red). Bersama bukti-bukti yang ditemukan dari
    catatan sejarah, dia lantas berkesimpulan bahwa pelaut serta navigator
    ulung dari masa dinasti Ming itu adalah penemu awal benua Amerika, dan
    bukannya Columbus.







    Bahkan
    menurutnya, Zheng He ‘mengalahkan’ Columbus dengan rentang waktu
    sekitar 70 tahun. Apa yang dikemukakan Menzies tentu membuat kehebohan
    lantaran masyarakat dunia selama ini mengetahui bahwa Columbus-lah si
    penemu benua Amerika pada sekitar abad ke-15. Pernyataan Menzies ini
    dikuatkan dengan sejumlah bukti sejarah.

    Adalah sebuah peta
    buatan masa sebelum Columbus memulai ekspedisinya lengkap dengan gambar
    benua Amerika serta sebuah peta astronomi milik Zheng He yang
    dosodorkannya sebagai barang bukti itu. Menzies menjadi sangat yakin
    setelah meneliti akurasi benda-benda bersejarah itu.

    Cherokee
    syllabary”Laksana inilah yang semestinya dianugerahi gelar sebagai
    penemu pertama benua Amerika,” ujarnya. Menzies melakukan kajian selama
    lebih dari 14 tahun. Ini termasuk penelitian peta-peta kuno, bukti
    artefak dan juga pengembangan dari teknologi astronomi modern seperti
    melalui program software Starry Night.

    Dari bukti-bukti kunci
    yang bisa mengubah alur sejarah ini, Menzies mengatakan bahwa sebagian
    besar peta maupun tulisan navigasi Cina kuno bersumber pada masa
    pelayaran Laksamana Zheng He. Penjelajahannya hingga mencapai benua
    Amerika mengambil waktu antara tahun 1421 dan 1423. Sebelumnya armada
    kapal Zheng He berlayar menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan
    sampai ke Amerika Selatan.







    Uraian
    astronomi pelayaran Zheng He kira-kira menyebut, pada larut malam saat
    terlihat bintang selatan sekitar tanggal 18 Maret 1421, lokasi berada di
    ujung selatan Amerika Selatan. Hal tersebut kemudian direkonstruksi
    ulang menggunakan software Starry Night dengan membandingkan peta
    pelayaran Zheng He.

    “Saya memprogram Starry Night hingga masa di
    tahun 1421 serta bagian dunia yang diperkirakan pernah dilayari
    ekspedisi tersebut,” ungkap Menzies yang juga ahli navigasi dan mantan
    komandan kapal selam angkatan laut Inggris ini. Dari sini, dia akhirnya
    menemukan dua lokasi berbeda dari pelayaran ini berkat catatan astronomi
    (bintang) ekspedisi Zheng He.

    Lantas terjadi pergerakan pada
    bintang-bintang ini, sesuai perputaran serta orientasi bumi di angkasa.
    Akibat perputaran bumi yang kurang sempurna membuat sumbu bumi seolah
    mengukir lingkaran di angkasa setiap 26 ribu tahun. Fenomena ini, yang
    disebut presisi, berarti tiap titik kutub membidik bintang berbeda
    selama waktu berjalan. Menzies menggunakan software untuk merekonstruksi
    posisi bintang-bintang seperti pada masa tahun 1421.

    “Kita sudah
    memiliki peta bintang Cina kuno namun masih membutuhkan penanggalan
    petanya,” kata Menzies. Saat sedang bingung memikirkan masalah ini,
    tiba-tiba ditemukanlah pemecahannya. “Dengan kemujuran luar biasa, salah
    satu dari tujuan yang mereka lalui, yakni antara Sumatra dan Dondra
    Head, Srilanka, mengarah ke barat.”

    Bagian dari pelayaran
    tersebut rupanya sangat dekat dengan garis katulistiwa di Samudera
    Hindia. Adapun Polaris, sang bintang utara, dan bintang selatan Canopus,
    yang dekat dengan lintang kutub selatan, tercantum dalam peta. “Dari
    situ, kita berhasil menentukan arah dan letak Polaris. Sehingga
    selanjutnya kita bisa memastikan masa dari peta itu yakni tahun 1421,
    plus dan minus 30 tahun.”

    Sequoyah Atas temuan tersebut, Phillip
    Sadler, pakar navigasi dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics,
    mengatakan perkiraan dengan menggunakan peta kuno berdasarkan posisi
    bintang amatlah dimungkinkan. Dia juga sepakat bahwa estimasi waktu 30
    tahun, seperti dalam pandangan Menzies, juga masuk akal.







    Selama
    ini, masyarakat dunia mengetahui kiprah Zheng He sebagai penjelajah
    ulung. Dia terlahir di Kunyang, kota yang berada di sebelah barat daya
    Propinsi Yunan, pada tahun 1371. Keluarganya yang bernama Ma, adalah
    bagian dari warga minoritas Semur. Mereka berasal dari kawasan Asia
    Tengah serta menganut agama Islam.


    Ayah
    dan kakek Zheng He diketahui pernah mengadakan perjalanan haji ke Tanah
    Suci Makkah. Sementara Zheng He sendiri tumbuh besar dengan banyak
    mengadakan perjalanan ke sejumlah wilayah. Ia adalah Muslim yang taat.


    Yunan
    adalah salah satu wilayah terakhir pertahanan bangsa Mongol, yang sudah
    ada jauh sebelum masa dinasti Ming. Pada saat pasukan Ming menguasai
    Yunan tahun 1382, Zheng He turut ditawan dan dibawa ke Nanjing. Ketika
    itu dia masih berusia 11 tahun.


    Zheng
    He pun dijadikan sebagai pelayan putra mahkota yang nantinya menjadi
    kaisar bernama Yong Le. Nah kaisar inilah yang memberi nama Zheng He
    hingga akhirnya dia menjadi salah satu panglima laut paling termashyur
    di dunia.



No comments:

Post a Comment