Wednesday, August 17, 2011

Satu- satunya orang yang mengabadikan foto proklamasi kemerdekaan RI






    Frans Soemarto Mendoer


    Fotografi
    memang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi juga menjadi bukti
    sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan
    keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang
    suatu hal. Frans Soemarto Mendoer sangat memahami hal tersebut. Karena
    itulah, setelah mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia
    Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno, Frans
    langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu
    sambil membawa kamera Leica-nya. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus
    1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks
    proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno.



    Saat
    itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari
    peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang
    pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang kedua, adegan
    pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat,
    salah seorang anggota PETA. Dan yang ketiga, suasana ramainya para
    pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan
    tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah
    kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah
    memburunya.

    Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan
    momen sakral itu karena Alex Alexius Impurung Mendoer, kakak kandungnya
    yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan
    kameranya dirampas oleh tentara Jepang.

    Dan sewaktu tentara
    Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang
    membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil
    oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat
    penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat
    sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja
    saat itu negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin
    generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti
    apa peristiwa sakral tersebut.

    Bahkan, mengenai kehadiran Frans
    di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis
    “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto
    dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” Tulisan itu
    dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari
    menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara
    Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.

    Pencucian tiga buah foto
    bersejarah itu juga tidaklah mudah karena dihalang-halangi pihak Jepang.
    Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat
    pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei
    (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto
    guna mencetak foto-foto tersebut. Padahal, bila dua bersaudara itu
    tertangkap oleh tentara Jepang, mereka akan dipenjara, bahkan dihukum
    mati.

    Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama
    kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari
    setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu
    sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film
    itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara
    yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara
    mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang
    dimiliki Antara lalu membakarnya.
     
    Klik di Bawah Untuk Bersedekah







No comments:

Post a Comment