Monday, August 22, 2011

Salah SMS berujung dapat Ngent0t Cewek Gratis






    Gw
    lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Jogya. Bagiku, sex adalah
    hal yang tabu, yang benar-benar tak terjamah. Terpikirkan pun tidak,
    sampai kisah ini gw alami. Cerita Sex ini dimulai dari salah kirim SMS.
    Saat itu, gw berniat mengirim SMS ke seorang teman cewek yang sudah lama
    kukenal. Karena sudah tidak lama berhubungan, dan gw tidak punya
    catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka gw menuliskan nomor HP
    dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan
    yang kira-kira menyatakan bahwa gw kangen dan ingin bertemu dengannya!
    Hallow Jun How Are U? I MISS U JUN Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia
    tidak menjawab. Aneh, pkirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas
    kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan
    kucantumkan nama gw. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call.
    Karena saat itu gw sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan
    SMS yang menyatakan bahwa gw akan meneleponnya sore nanti.





    pukul
    5 langsung kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. Halo, Juny?,
    Tanya gw sejenak, ragu. Saya pikir anda salah orang, begitu tanggapan
    lawan bicara gw. Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang
    saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu,
    jawabku sambil menahan malu. Oh, tidak apa-apa, jawab lawan bicaragw
    lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicaragw
    segera bertanya. Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake
    kangen2 segala?, ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Juny adalah
    teman lamagw, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata,
    akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, gw tahu bahwa nama wanita
    tersebut adalah Fitri.





    Sejak
    saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang gw malah menelponnya.
    Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau
    melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Dua bulan
    berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah
    menjadi hal-hal yang agak menjurus ke sex. Tiga bulan berjalan sejak
    perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Fitri mengirim SMS yang
    menyatakan ingin bertemu. Mengapa tidak, kupikir. Toh tidak ada ruginya
    untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke sex. Kami
    janjian sore pukul 17.00. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di
    tempat yang dijanjikan, gw segera meneleponnya. Gua pake sweater pink,
    kata Fitri. Segera kutemui Fitri yang sedang berdiri menunggu. Hai,
    Fitri ya?, tanyagw. Fitri segera tersenyum. Wajahnya memang tidak
    cantik, tubuhnya pun tidak aduhai seperti poster swimsuit di majalah
    Popular. Namun, gw memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan
    fisik. Segera kuperkenalkan diriku. Gua Nala, katagw. Memang pergaulanku
    dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu gw sedikit gugup. Namun,
    segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim (jaga image). Kami
    segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan
    di sebuah food court.





    Nala,
    suka nyanyi-nyanyi gak?, tanya Fitri setelah kami selesai makan. Suka,
    tapi tidak di depan umum, begitu jawabku. Sama dong. Kalo gitu, mau gak
    kamu saya ajak utk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok,
    jadi tidak ada orang lain. tanya Fitri. Kupikir, asyik juga ya, untuk
    melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat
    menggunakan mobilku.





    Setibanya
    di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun
    masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi
    gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress
    menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Fitri permisi kepadagw untuk
    ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Fitri
    kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian
    tajam. Namun, tidak kupedulikan.





    Segera
    kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi.
    Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Fitri memesan lagu yang lembut,
    dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung
    tanganku menyentuh punggung tangan Fitri. Halus sekali, pikirku. Sayang
    sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga
    kubiarkan saja di situ. Fitri pun diam saja, tidak berusaha melepaskan
    sentuhan tangannya dari tanganku. Dingin ya?, tanya Fitri, kepadagw,
    sambil melihat tanganku. Iya, jawabku mengangguk lemah. Segera Fitri
    mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam
    jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut.
    Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali gw mengelus pipinya
    yang lembut, namun gw agak takut-takut. Perlahan-lahan Fitri mendekatkan
    bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.





    Wangi
    aroma tubuh Fitri segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi
    ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Fitri. Ia menatapku. Gw
    balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku
    segera berdesir. Kukecup keningnya. Fitri diam saja. Kukecup rambut dan
    pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Fitri benar-benar
    kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang
    besar untuk memeluknya. Fitri sepertinya mengerti karena dia segera
    mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera
    kupeluk Fitri dengan rasa sayang.





    Tiba-tiba
    Fitri menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut
    kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut.
    Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Fitri diam saja. Gw
    mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan
    memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Gw semakin berani. Tangan
    kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit
    lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku
    mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya.
    Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Fitri
    mendesah. Ssshh, desahnya.





    Kulanjutkan
    penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi
    Fitri mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat
    kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. Oh, nikmat sekali
    berciuman seperti ini, pikirku karena memang gw belum pernah berciuman
    dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena gw belum pernah melakukan
    hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat.
    Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan
    sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Fitri. Kemudian kami
    lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat
    itu.





    Kuteruskan
    permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut
    buah dada Fitri. Fitri kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat.
    Tiba-tiba Fitri menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana
    panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh
    tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya.
    Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah.
    Montok kan punya gua?, begitu ungkap Fitri saat tanganku mengelus lembut
    vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal gw tidak bisa
    membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya,
    seraya desahan Fitri mengiringi gerakanku. Sssh.. Oh, Nala. Baru kamu
    laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut, begitu terus
    desahnya. Tersanjung juga gw dipuji dirinya.





    Kami
    terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. Nala, kamu jangan
    pulang dulu ya. Gw ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar gw di
    hotel ya?, tanya Fitri kepadagw. Saat itu, gw agak takut. Takut gw tidak
    bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2
    agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Fitri mengerti
    ketakutanku. Gw cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Nala?, tanyanya
    dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan
    permintaannya. Di satu sisi, gw takut sekali melanggar ajaran agama.
    Lagipula, gw banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi
    kemanusiaanku membuat gw tidak tega menolaknya. Baiklah, tapi tidak
    lebih dari itu ya?, jawabku. Iya, gua janji deh, kata Fitri lagi.





    Kami
    segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah
    hotel menggunakan mobilku. Fitri menjadi penunjuk jalan. Setelah
    membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam
    kamar. Di dalam kamar, gw menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati
    sebuah film. Tak lama kemudian, Fitri membentangkan tubuhnya di kamar
    tsb. Nala, sini dong, kata Fitri. Gw mengubah posisi duduk ku di ranjang
    mendekati Fitri. Gw dalam posisi duduk, sementara Fitri sudah
    telentang. Nala, belai gw lagi ya, kata Fitri. Segera tanganku mengelus
    dahi Fitri. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke
    rambutnya yang panjang.





    Fitri
    menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke
    ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Fitri membuka matanya,
    tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Fitri benar-benar menikmati
    perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Gw hanya menyentuhkan
    bibirku di bibirnya. Namun segera Fitri menjerat bibirku di bibirnya.
    Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat
    memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun
    Fitri segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke
    bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan
    lidahku.





    Fitri
    meronta-ronta dan mendesah. Aduh Nala, geli sekali. Teruskan Nala,
    katanya. Kucumbu Fitri terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku
    ke lehernya. Fitri mendesah hebat. Ssshh.. sshh.. ohh, desah Fitri. Gw
    tidak bisa menahan diriku lagi. Fitri, boleh kubuka bajumu?, tanyagw
    pelan kepada Fitri. Fitri mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka
    kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra
    berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar payudaranya. Tak lupa
    kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Fitri mengerang. Nala,
    buka BH gua dong, pinta Fitri. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya
    untuk membuka BHnya. Sulit sekali membuka BHnya. Maklum, belum pernah gw
    membuka BH wanita.





    Setelah
    terbuka, pelan-pelan kutanggalkan BHnya. Segera tampak bukit indahnya
    yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali,
    pikirku. Ingin sekali gw menciumnya. Kupindahkan BHnya dan bajunya ke
    meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan
    lidahku. Kuputar wajahku memutari tokednya. Fitri mendesah lagi. Gerakan
    itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke toked kanannya. Di
    sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak
    tokednya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum,
    dan kuhisap. Fitri mengerang-ngerang. Aduh, Nala..ssh..ssh.. geli
    sekali. Terus Nala... Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian
    perutnya. Auw.. enak Nala.., Fitri menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira
    15 menit Fitri kuperlakukan seperti itu.





    Nala,
    bukain celanaku dong.., pinta Fitri. Segera kubuka kancing celananya,
    dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan
    kewanitaannya yang masih tertutupi Celana Dalam warna hitam. Masih
    mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya.
    Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus
    bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.ohh.., rintih
    Fitri menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih
    tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian
    tersebut. Fitri meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah
    pahanya. Oh.. ohh.. ronta Fitri. Gantian tangan Fitri yang masuk ke
    celana dalamku. Dipegangnya Kontolku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh,
    nikmat sekali rasanya.. Nala, buka celana dalam gua.., pinta Fitri.
    Jangan Fitri, gua gak berani melakukan itu.. katagw.





    Gw
    bukan bermaksud munafik, tapi gw memang benar-benar takut saat itu,
    karena belum pernah melakukannya. Tak apa-apa, Nala, tidak usah
    dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja, pinta Fitri memohon. Akhirnya
    kubuka celana dalam Fitri. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh,
    indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. Elus lagi, Nala..,
    pinta Fitri. Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya
    yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi
    Fitri meronta. Ohh..ohh. Ke atas lagi Nala. Elus klitorisku, begitu
    desahnya perlahan. Gw tidak tahu persis di mana klitoris. Gw terus
    mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Fitri membimbing tanganku ke
    klitorisnya.





    Baru
    sekali itu gw tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan
    lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 5 putaran, Fitri
    langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2
    menikmati perlakuanku. Nala, tolong hisap klitorisku, yah?, pinta Fitri.
    Gw sedikit ragu, dan jijik. Pake tangan aja yah, Fitri.., gw berusaha
    menolak dengan halus. Tolong dong, Nala. Sekali ini saja. Nanti gantian
    deh , pinta Fitri. Gw masih berat hati menghisapnya. Fitri, maaf ya.
    Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti... Belum selesai gw bicara, Fitri
    segera memotongku. Kemaluanku bersih kok, Nala. Gw selalu menggunakan
    antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok, pinta Fitri lagi.





    Perlahan-lahan
    kudekatkan mulutku ke memeknya Fitri. Segera tercium aroma yang tidak
    bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Gw
    takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke
    vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. Terus, Nala..ohh..
    enak sekali, desah Fitri. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa
    takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang
    menjilati vaginanya. Fitri makin mendesah. ooh.. oohh.. ohh.. ohh. Fitri
    menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang vaginanya.
    Kamu nanti tidak kesakitan?, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan.
    Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. Ahh.., Fitri menjerit
    kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.





    Saat
    kuarahkan jariku ke langit-langit memeknya, terasa ada bagian yang agak
    kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. 'Ya, terus di situ
    Nala.. ahh.. enak sekali.. Kuteruskan untuk beberapa saat. Fitri makin
    membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Fitri menggerakkan pantatnya ke
    atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. Ah Nala.. gw mau
    keluaar.. erang Fitri. Fitri makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba
    gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalagw dengan
    pahanya. Ahh.. Nala..gw keluar, desahnya. Segera kupeluk tubuh Fitri,
    dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Fitri menikmati orgasmenya.
    Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. Nala, enak
    sekali, kata Fitri. Gw diam saja.





    Sekarang
    gantian, ya, kata Fitri. Gw mengangguk pasrah, antara mau dan takut.
    Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang.
    Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu.
    Segera kututupi Kontolku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Fitri
    mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Gw merasa lebih
    tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahagw yang menutupi Kontolku. Fitri
    segera meraba-raba Kontolku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu
    membuatku secara refleks menggelinjang. Fitri tertawa. Enak kan, Nala?
    tanyanya menggodagw. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. Mau
    diterusin gak, Nala? tanya Fitri sambil menggoda lagi. Gw hanya
    mengangguk.





    Saat
    itu Kontolku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat
    adegan yg sedikit porno, punyagw langsung keras. Akhirnya Fitri
    mendekatkan mulutnya ke Kontolku. Dikecupnya ujung Kontolku perlahan.
    Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. Nala,
    punya kamu enak. Bersih dan terawat, ujar Fitri. Geer juga gw dipuji
    begitu. Dipegangnya gagang Kontolku, lalu Fitri mulai menjilati
    Kontolku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek gw meronta,
    melepaskan Kontolku dari mulut Fitri. Kenapa, Nala?, tanya Fitri. Gua
    gak tahan. Geli banget, sih?, katagw protes. Ya udah, pelan-pelan aja,
    ya?, kata Fitri. Gw mengangguk lagi. Fitri mulai memperlambat tempo
    permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti
    rasa nyaman.





    Kuperhatikan
    Fitri menjilati Kontolku, tak terasa Kontolku segera mengeras. Fitri
    senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali Kontolku itu, kali ini
    sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi gw disiksanya dengan
    rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira
    nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada
    tara seperti ini. Ah.., tak kuasa gw menahan desahanku. Nala, kumasukan
    ya punyamu?, tanya Fitri. Nanti kamu sakit, gak?, tanyagw. Gw sudah tak
    bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya Kontolku dikepit oleh
    vaginanya. Ya, kalau gw yang ngontrol sih, gak sakit, kata Fitri. Ya
    udah, kamu yang di atas aja, katagw kepadanya.





    Fitri
    segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas
    tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya Kontolku menuju liang Kontolnya.
    Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung Kontolku ke dalam. Terasa
    sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyagw di sana utk
    beberapa saat. Gw diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini
    punyagw masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya.
    Sudah sepertiga dari panjang Kontolku yang berada dalam vaginanya. Dia
    diamkan lagi Kontolku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit.
    Sakit?, kutanya. Iya, tapi gak apa2. , jawab Fitri. Kemudian ia
    mendorong Kontolku makin dalam, hingga akhirnya semua Kontolku tertelan
    di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli
    sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Fitri mulai menggerakkan
    pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati Kontolku terjepit
    dalam vagina Fitri.





    Gerakan
    pantat Fitri membuat Kontolku terkocok, dan segera gw merasakan
    kenikmatan yang tiada tara. Fitri pun seakan-akan begitu. Ohh.. ohh..
    ohh.. ohh, Fitri mengerang-ngerang. Fitri terus menggerakan pinggulnya
    naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba
    ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku.
    Namun, ternyata Fitri tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya
    digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang
    berputar. Sepertinya Fitri sangat menikmati gerakan ini, terbukti
    erangannya semakin sering. Ah.. ah.. ahh.. ahh.., desahnya terus, tanpa
    henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Fitri makin merintih. Sssh..
    ssh.. sshh.. enak Nala .





    Makin
    lama gerakan Fitri makin cepat. Nala, gw mau keluar lagi, Nala..
    rintihnya. Gw pun merasa Kontolku berdenyut kencang. Fitri, tolong
    lepaskan, gw mau keluar, katagw. Gw takut sekali kalau sampai Fitri
    hamil. Tapi Fitri tidak mau melepaskan Kontolku. Ditekannya kuat
    tanganku dengan kedua tangannya sehingga gw tidak bisa melepaskan diri
    darinya. Tiba-tiba kurasa Kontolku menyemburkan cairan kuat di dalam
    vaginanya. Aduh, Fitri, jangan.. nanti kamu hamil.., teriakku, sesaat
    sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku
    sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas
    tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot Kontolku mengerut, dan menjadi
    kecil kembali.





    Fitri
    dengan kecewa melepaskan Kontolku. Fitri, kalo kamu hamil gimana,
    tanyagw dengan setengah takut. Tenang aja, Nala. Gua pake alat
    kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya?, kata Fitri menenangkan
    diriku. Kemudian, Fitri segera memijat-mijt Kontolku. Dielus, dan di
    kulum lagi seperti tadi. Tak lama, Kontolku segera mengejang lagi.
    Segera Kontolku dimasukan lagi oleh Fitri ke vaginanya. Kembali Fitri
    melakukan gerakan maju mundur tadi. ohh.. ohh.. ohh.. oohh, erangnya.
    Kuremas lembut tokednya. Ssshh.. sshh.. sshh, begitu terus rintihannya.
    Selama beberapa saat Fitri mengocok Kontolku dengan vaginanya, sampai
    akhirnya ia berteriak. Nala, gw hampir keluar, desah Fitri. Segera Fitri
    mempercepat gerakannya. Gw pun membantunya dengan menggerakan pinggulku
    berlawanan dengan arah gerakannya. Ahh.. Nala, gw keluar, desahnya agak
    keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam
    pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan
    kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi
    hari. Alangkah Indahnya Hidup ini dibuat oleh fitri dan gw tak akan
    pernah melupakan kenangan terindah di malam pertama bersama fitri
    walaupun kini gw gat au kabarnya si Fitri ini! HIkz….hikzzzz….
    nasib2 salah kirim sms dapat ngentot cewek gratis!hehehehehe

     
    Klik di Bawah Untuk Bersedekah







No comments:

Post a Comment