Monday, May 9, 2011

Islam Menguasai dunia di masa depan tahun 2020


    Berbicara tentang isu seputar pemuda dan masa depan Islam, tentu tak bisa dilepaskan dari peran orang tua. Jika kita pernah merasa muda, atau sekarang ini sedang dalam usia muda. Atau jika ada diantara kita yang sudah menjadi tua dan punya putra dan putri, sudah sapatutnya kita memperhatikan dan bertanggung jawab kepada generasi muda kita. Mungkin dengan jalan menebarkan sedikit ajaran agama Islam di blog ini, bisa memberikan hikmah bagi generasi muda di kemudian hari.


    Ada ilustrasi me sebuah pohon, yang Allah ciptakan di dunia ini, yang patut menjadi contoh bagi kita semua para orang tua, yaitupohon pisang. Perlu kita satukan visi terlebih dahulu bahwa, yang namanya orang tua bukan berarti harus selalu hubungan antara orang yang melahirkan kita dengan anak. Tetapi, bisa juga hubungan antara seseorang yang dianggap lebih tua secara usia dan kedewasaan dengan orang yang lebih muda, misal adik dan kakak atau om dan kemenakan dan sebagainya. Kembali lagi soal Pohon Pisang, kalau kita amati pohon pisang itu walaupun lunak, tidak kokoh, kalau ada angin yang kencang mudah roboh. Tetapi, dibalik itu ada keistimewaan yang luar biasa. Yakni pohon pisang itu tidak akan pernah berbuah sebelum dia bertunas atau punya anak. Hal ini bisa kita amati dan kita teliti yang ada di sekitar kita.

    Tidak ada pohon pisang yang berbuah sebelum dia menurunkan generasi penerusnya. Artinya, bahwa Allah SWT memberi pelajaran kepada kita melalui pohon pisang itu untuk berfikir jauh ke depan. Tidak hanya berfikir untuk masa kita sekarang, tetapi juga berfikir dan memikirkan bagaimana generasi muda kita ke depan? Mengapa pohon pisang tidak mau berbuah sebelum menurunkan generasi? Karena kalau pohon pisang berbuah sebelum punya generasi, maka dia akan cepat matang buahnya lalu ditebang oleh pemiliknya dan habislah riwayatnya. Tetapi tampaknya tidak demikian yang diharapkan oleh Allah dari pohon pisang. Lahirkan generasi dulu, siapkan generasi penerus baru silahkan engkau berbuah kemudian bersiap menyudahi kehidupannya. Itulah sedikit prolog tema posting kali ini Pemuda dan Masa depan Islam.




    Dalam surat an-Nisa ayat 9 Allah SWT berfirman yang maknanya:


    Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
    Ayat ini khithobnya (sasarannya) adalah kepada kita generasi yang lebih tua. Yaitu, hendaklah generasi tua memikirkan nasib generasi muda, keberlangsungan masa depan mereka juga masa depan agama mereka. Bagi para kawula muda dan para remaja ayat ini juga menjadi sandaran dan pijakan kuat bahwa Al-Qur’an memandang masa muda itu tidak ringan. Masa muda dan remaja itu penuh dengan tantangan. Ini harus disadari dan dihayati oleh para generasi muda. Nyata dalam Al-Qur’an memberikan nasehat hendaknya kaum tua mawas diri dan waspada seandainya mereka meninggalkan anak cucu atau generasi yang lemah.
    Kata dhi’aafa (lemah) dalam ayat di atas tentu berdimensi luas. Mencakup berbagai aspek kehidupan, khususnya lemah dalam hal meneruskan perjuangan generasi tua. Dimensi pertama lemah akidahnya. Ini tentu yang paling utama, yaitu hendaklah generasi tua mawas diri seandainya meninggalkan generasi muda yang lemah akidahnya. Kita umat Islam jangan sampai meninggalkan generasi yang goyah imannya. Karena kalau goyah pada dimensi pertama ini, maka hidup ini tidak ada artinya menurut pandangan agama. Karena diutusnya para Nabi atau Rasul itu adalah untuk membentengi akidah umatnya. Pada Rasul itu hampir tidak ada yang menonjolkan ilmu pengetahuan, meskipun mereka ahli ilmu pengetahuan. Nabi Dawud adalah orang yang ahli dalam bidang konstruksi baja (besi), tetapi dia menonjolkan dakwah ilahiyahnya. Pendekatan utama dakwahnya adalah lewat pondasi iman dan akidah, baru selanjutnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
    Dimensi kedua adalah lemah dalam fisiknya. Jangan sampai generasi muda kita punya fisik yang lemah, rentan terkena penyakit. Maka ini adalah tanggung jawab generasi tua ketika mereka dalam masa pertumbuhan untuk menyiapkan generasi muda yang sehat fisiknya, sehat ekonominya dan juga sehat secara pendidikan.
    Tantangan pemuda Islam saat ini yang pertama adalah tantangan secara cultural. Karena perkembangan iptek saat ini telah membuat pemuda kita mudah goyah. Iptek telah membuat kemajuan yang luar biasa keseluruhan dimensi kehidupan, dimensia social, budaya, ekonomi dan sebagainya. Perkembangan iptek secara tidak langsung membawa tantangan kepada pemuda-pemuda kita. Dari situasi yang seringkali muncul adalah terjadinya krisis identitas. Terjadi kelemahan cultural karena mereka tidak mau menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dan bahkan mereka merasa malu dan enggan untuk menampakkan identitas sebagai generasi muslim. Ini yang harus kita waspadai sebagai orang tua.
    Factor yang menjadi pemicu krisis cultural identity ini adalah lemahnya pemahaman akan agama Islam. Anak-anak kita atau adik-adik kita seringkali hanya terfokus pada study di sekolah saja dan melupakan tugas utamanya sebagai seorang muslim yaitu ibadah. Menuntut ilmu bukan hanya sekedar di bangku sekolah formal. Mengaji, mengikuti majelis taklim atau sekedar menyempatkan beberapa menit untuk mendengarkan dakwah adalah salah satu cara kita dalam dalam memahami agama.
    Yang ketiga adalah lemahnya skill para pemuda muslim. Keterbatasan atau ketidakmampuan dalam skill membuat banyak pemuda islam goyah dalam hidupnya. Kalau sudah goyah, ini akan membahayakan mental dari pemuda kita. Dalam situasi yang sudah meng-global dan sangat komplek seperti sekarang ini, akan sangat rentan bagi pemuda terseret dalam kerapuhan iman. Seyogyanya kita sebagai umat muslim saling membantu dan mendo’akan satu sama lain. Dan yang lebih penting saat ini adalah bagaimana kita turut membantu mengembangkan skill dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri setiap pemuda muslim. Bukankah Rasulullah sendiri adalah suri teladan yang nyata bagi umat muslim untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship dan leadership?
    Sebagai penutup, mari kita coba sarikan kembali langkah apa yang perlu kita ambil dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini. Pertama; berikan penyadaran kepada anak-anak kita, adik-adik kita dan saudara-saudara kita sesama umat muslim bahwa dunia telah berubah dan banyak sekali godaan dan tantangan yang akan kita hadapi. Kita harus melakukan personal approach pada mereka dan memberikan penjelasan secara comprehensive terhadap segala efek negative yang akan terjadi jika mereka lupa akan agamanya. Dunia boleh berupa, peradaban boleh berkembang tapi Al-Qur’an dan hadizt adalah pedoman utama umat Islam dalam menghadapi setiap perubahan zaman. Al-Qur’anadalah penuntun kita dijalan yang diridhoi oleh Allah. Kedua; kita harus melakukan pendisiplinan untuk melakukan sesuatu yang terpuji baik di rumah, sekolah dan masyarakat sejak dini. Bahkan sedini mungkin kalau dimungkinkan. Karena dengan melakukan pendisiplin perilaku yang baik sejak dini maka akan menjadi pondasi yang kuat bagi pemuda dalam menghadapi tantangan di zamannya kelak. Dengan begitu kita berharap, insyaallah generasipemuda Islam akan bisa meneruskan tongkat estafet dari orangtua untuk masa-masa yang akan datang. Amin ya Rabbal alaminnarik untuk menggambarkan pemuda dan masa depan Islam. Ada
    Sumber :http://www.goendul.net/isu-seputar-pemuda-dan-masa-depan-islam

No comments:

Post a Comment