Saturday, May 21, 2011

Asyiknya Dugem di Bali












    Dugem di Bali simple dan tidak neko-neko. Maksud saya, kalau mau dugem nggak perlu repot-repot dress up dan khawatir masalah penampilan. Kebanyakan orang biasa pergi ngedugem hanya dengan tshirt, celana pendek dan sandal. In case of turis Aussie, yang muda-mudanya malah sering telanjang dada.
    Perbedaan yang mencolok dari tempat-tempat dugem di dua kawasan tadi. Sepanjang jalan Legian, diisi oleh tempat-tempat dugem besar seperti Boonties dan Paddy’s yang kebanyakan diisi oleh teenager dan twenty something. Banyak juga sih yang tua tapi kelompok anak muda lah yang mendominasi. Paddy’s, salah satu Club yang dulu jadi korban ledakan bom Bali kini berdiri megah kembali. Pengunjungnya sih bejibun berdesak-desakan terutama weekend. Tapi menurut saya, so not me deh! Musiknya tang tung tang tung dan dipenuhi oleh bule Aussie.
    Klub-klub besar tadi letaknya dekat banget sama Poppies Lane, tempatnya anak-anak muda stay di hostel yang tersebar di sepanjang “gang” itu. Malam hari, “gang” tersebut sesak sama turis yang lalu lalang. Secara kalau malam kan tumpah ruah di daratan semua setelah seharian di pantai. Rupanya, sebelum berangkat ke klub mereka pada “pemanasan” dulu. Nentengin bir bintang hilir mudik sepanjang jalan menciptakan suasana ramai dan bergairah. Ada jyga yang pemanasannya kebablasan sehingga “dugem” nya cukup di emperan hostel dan toko-toko sepanjang Poppies Lane
    Mereka hanya turis-turis kere yang nggak punya duit lagi buat minum di klub. Ngomong masalah kere, saya ingat petuah teman saya yang berprofesi sebagai “beach boys” dua tahun lalu. Katanya sangat mudah buat mengidentifkasi apakah seorang turis kere atau tidak. Kalau tentengannya sudah nasi bungkus yang dijula ibu-ibu jawa di pinggir pantai, bisa dipastikan itu turis sudah kere.
    Bergeser ke arah seminyak, suasananya jadi beda. Kawasan seminyak dipenuhi oleh butik-butik mewah (bagi orang lokal dan bule kere), restoran-restoran enak dan bar-bar kecil. Makhluk yang lalu lalang pun berbeda. Kalau di kuta kebanyakan teenagers dan twenty something, maka seminyak didominasi oleh generasi di atas mereka. Tampilannya juga lebih keren dan tidak crowded. Walaupun klub-klubnya lebih kecil, tapi musiknya keren-keren. Paling tidak Lady Gaga terdengar dimana-mana. Klub disini terpusat di kawasan Dyana Pura. Tapi yang nyebelin, disini sering banget ada show Lady Boy alias Waria. Later I know, ternyata memang ada beberapa Gay Bar di seputaran kawasan in

No comments:

Post a Comment